Serapan Tenaga Kerja Bisnis Pergudangan di Kota Industri Ini Masih Minim

Rabu, 07 Jun 2017 13:03 | editor : Suryo Eko Prasetyo

TIDAK DONGKRAK EKONOMI: Pergudangan di wilayah Kecamatan Manyar. Di kawasan Gresik Utara banyak gudang baru.

TIDAK DONGKRAK EKONOMI: Pergudangan di wilayah Kecamatan Manyar. Di kawasan Gresik Utara banyak gudang baru. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Bangunan pergudangan menjamur di Kota Pudak. Hampir di setiap jalan protokol tumbuh gudang anyar. Namun, sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat minim. Alasannya, penyerapan tenaga kerja sedikit.

Berdasar catatan dari Dinas Penanaman Modal dan PTSP Gresik, rata-rata jumlah tenaga kerja sektor pergudangan maksimal 15 orang. ’’Padahal, luas lahan yang diusulkan untuk usaha cukup besar. Biasanya di atas 1 hektare,’’ papar Kabid Pelayanan Tata Ruang, Bangunan, dan Lingkungan DPM dan PTSP Gresik Farida Haznah Ma’ruf saat ditemui di ruangannya Selasa (6/6).

Menurut Farida, luas pergudangan tidak kalah dengan industri. Padahal, industri dengan luas yang sama mampu merekrut tenaga kerja minimal 25 orang. Selain itu, jumlah pekerja di pergudangan kalah jauh jika dibandingkan dengan kompleks perniagaan atau pusat perbelanjaan.

Apa ada rencana pembatasan izin? Farida mengatakan, pembatasan tidak mungkin dilakukan. ’’Namun, kami berharap pengusaha di pergudangan juga memikirkan perekonomian daerah. Minimal tenaga kerjanya,” ujar Farida.

DPM dan PTSP Gresik mencatat, jumlah izin pergudangan terus bertambah setiap tahun. Sepanjang 2016, ada 33 izin pembangunan pergudangan yang masuk. Tahun ini, per Januari–Mei tercatat sudah ada 20 izin. Selain itu, ada empat pergudangan yang bakal dibangun tahun ini. Sektor itu tumbuh di kawasan Manyar, Cerme, Driyorejo, dan Wringinanom. (hen/c7/dio)

Sumber

Pertamina Impor LPG Antisipasi Naiknya Kebutuhan Puasa dan Lebaran

Moh. Nadlir
Kompas.com – 06/06/2017, 11:00 WIB
Ilustrasi: Penjual gas elpiji.(Kompas.com/David Oliver Purba)

JAKARTA, KOMPAS.com – Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina, Gigih Wahyu mengatakan bahwa pihaknya akan mengimpor LPG atau liquified petroleum gas. Hal itu kata Gigih, untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan LPG saat Ramadhan dan jelang Lebaran.

“LPG ini salah satu energi yang dibutuhkan. Kami perkirakan akan ada peningkatan sekitar 8 persen pada saat puasa dan Lebaran,” kata Gigih di kantor BPH Migas, Jakarta, Senin (5/6/2017).

Impor LPG yang akan dilakukan Pertamina tersebut, akan disesuaikan dengan prediksi peningkatan kebutuhan masyarakat.

“Impornya mungkin related. Kita harus menyeimbangkan supply and demand 8-10 persen yang akan kita impor,” kata Gigih, tanpa menyebut dari negara mana saja Pertamina akan melakukan impor LPG.

“Strategi kami bagaimana memenuhi pasar sebelum hari-H Lebaran dan seminggu setelahnya,” tambah dia.

Seperti diketahui, saat ini Pertamina menjual LPG dalam bentuk tabung gas dengan merek bernama Elpiji, yang tersedia dalam ukuran 3 kilogram dan 12 kilogram, dan Bright Gas ukuran 5,5 kilogram.

Gigih juga menambahkan, persoalan LPG yang paling krusial adalah penjualan di outlet atau pengecer. Meski di atas pengecer masih ada pangkalan dan agen.

“Antisipasi yang kita lakukan, begitu juga di tahun lalu bahwa kita akan tambah pasokan ke pasar. Karena efeknya panjang di distribusinya, sehingga kita harapkan mulai sekarang sudah meningkat,” ujar dia.

(Baca: Konsumsi Elpiji selama Ramadhan Diperkirakan Naik)

Sumber