Habibie: Indonesia Bukan Negara Islam, tapi Negara Demokrasi

Rabu, 15 Februari 2017 | 19:59 WIB

Habibie: Indonesia Bukan Negara Islam, tapi Negara Demokrasi  

Presiden ke-3 RI, BJ Habibie menghadiri pemutaran film Rudy Habibie di Epicentrum XXI Jakarta, 25 Juni 2016. Pemutaran film ini juga menjadi perayaan ulang tahun BJ Habibie yang ke-80. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.COJakarta – Mantan presiden B.J. Habibie menyatakan optimistis demokrasi di Indonesia berkembang semakin baik seiring digelarnya pemilihan kepala daerah serentak 2017.

“Saya optimistis lho melihat pengembangan dan berkembangnya demokrasi di Indonesia,” ujarnya setelah mencoblos di TPS 05 Patra Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Februari 2017.

Baca juga:
Pertemuan Jokowi-SBY, Pratikno: Mungkin Setelah Pilkada

Ahok Menang di Markas Rizieq, Begini Analisis Jusuf Kalla

Perkembangan positif demokrasi di Indonesia, menurut dia, salah satunya terlihat dari pelaksanaan pilkada yang berjalan baik. “Hari ini oke, debatnya baik dan diserahkan kepada rakyat sendiri yang makin lama makin baik kualitas hidupnya, yang berarti pemerataan keadilan berjalan baik tapi belum sempurna,” kata Habibie.

Soal pilkada DKI yang disorot banyak kalangan, Habibie menilai hal itu wajar. Menurut dia, perhatian terhadap pilkada DKI tidak hanya dari seluruh bangsa Indonesia, tapi juga dunia. Sebab, kata dia, bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang pluralistik.

Habibie melanjutkan, Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam. Namun, “Ini bukan negara Islam. Negara demokrasi, yang ditentukan oleh rakyat. Wawasan dan kehendak rakyat disampaikan rakyat melalui mekanisme sistem yang kita namakan demokrasi. Ada negara-negara yang demokrasi, tapi pelaksanaannya tidak seperti kita saat ini,” tuturnya.

SUMBER

Soekarno Bapak Proklamasi Indonesia

Nama Lengkap : Soekarno

Alias : Bung Karno | Pak Karno

Profesi : Pahlawan Nasional

Agama : Islam

Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur

Tanggal Lahir : Kamis, 6 Juni 1901

Zodiac : Gemini

Warga Negara : Indonesia
Ayah : Raden Soekemi Sosrodihardjo
Anak : Megawati Soekarnoputri, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, Guntur Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Taufan Soekarnoputra , Bayu Soekarnoputra, Totok Suryawan, Kartika Sari Dewi Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri
Ibu : Ida Ayu Nyoman Rai
Istri : Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar, Fatmawati Soekarno

BIOGRAFI

Ir. Soekarno atau yang biasa dipanggil Bung Karno yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai.

Ayah Soekarno adalah seorang guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar Pribumi Singaraja, Bali.

Soekarno hanya menghabiskan sedikit masa kecilnya dengan orangtuanya hingga akhirnya dia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Soekarno pertama kali bersekolah di Tulung Agung hingga akhirnya dia ikut kedua orangtuanya pindah ke Mojokerto.

Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School. Di tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS).

Setelah lulus pada tahun 1915, Soekarno melanjutkan pendidikannya di HBS, Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para tokoh dari Sarekat Islam, organisasi yang kala itu dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang juga memberi tumpangan ketika Soekarno tinggal di Surabaya.

Dari sinilah, rasa nasionalisme dari dalam diri Soekarno terus menggelora. Di tahun berikutnya, Soekarno mulai aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian Soekarno ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.

Di tahun 1920 seusai tamat dari HBS, Soekarno melanjutkan studinya ke Technische Hoge School  (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil.

Saat bersekolah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Soekarno berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische Studie Club (dipimpin oleh Dr Soetomo). Algemene Studie Club  merupakan cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927.

Bulan Desember 1929, Soekarno ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di PNI. Pada tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Dari dalam penjara inilah, Soekarno membuat pledoi yang fenomenal, Indonesia Menggugat.

Soekarno dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931. Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI.

Soekarno kembali ditangkap oleh Belanda pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Karena jauhnya tempat pengasingan, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional lainnya.

Namun semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia hingga akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkan tokoh pergerakan Indonesia dimana salah satunya adalah Soekarno untuk menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang.

Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang tetap melakukan gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan.

Pada bulan Agustus 1945, Soekarno diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara ke Dalat, Vietnam. Marsekal Terauchi menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia merdekan dan segala urusan proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah tanggung jawab rakyat Indonesia sendiri.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Para tokoh pemuda dari PETA menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena pada saat itu di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan.

Ini disebabkan karena Jepang telah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan beberapa tokoh lainnya menolak tuntutan ini dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang.

Pada akhirnya,Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional lainnya mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sidang yang diadakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) panitia kecil untuk upacara proklamasi yang terdiri dari delapan orang resmi dibentuk.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Teks proklamasi secara langsung dibacakan oleh Soekarno yang semenjak pagi telah memenuhi halaman rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dikukuhkan oleh KNIP.

Kemerdekaan yang telah didapatkan ini tidak langsung bisa dinikmati karena di tahun-tahun berikutnya masih ada sekutu yang secara terang-terangan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan bahkan berusaha untuk kembali menjajah Indonesia.

Gencaran senjata dari pihak sekutu tak lantas membuat rakyat Indonesia menyerah, seperti yang terjadi di Surabaya ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Brigadir Jendral A.W.S Mallaby berusaha untuk kembali menyerang Indonesia.

Rakyat Indonesia di Surabaya dengan gigihnya terus berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya Brigadir Jendral AWS Mallaby tewas dan pemerintah Belanda menarik pasukannya kembali. Perang seperti ini tidak hanya terjadi di Surabaya tapi juga hampir di setiap kota.

Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer Belanda ke PBB karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati.

Walaupun telah dilaporkan ke PBB, Belanda tetap saja melakukan agresinya. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda rapat Dewan Keamanan PBB, di mana kemudian dikeluarkan Resolusi No 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan.

Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.

Pada 17 Agustus 1947, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda.

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno kembali diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS.

Karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali diubah menjadi Republik Indonesia dimana Ir Soekarno menjadi Presiden dan Mohammad Hatta menjadi wakilnya.

Pemberontakan G30S/PKI melahirkan krisis politik hebat di Indonesia. Massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan.

Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena menilai bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme).

Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik. Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditandatangani oleh Soekarno dimana isinya merupakan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.

Surat tersebut lalu digunakan oleh Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat bisa menjadi presiden apabila presiden sebelumnya berhalangan.

Pada 22 Juni 1966, Soekarno membacakan pidato pertanggungjawabannya mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S. Pidato pertanggungjawaban ini ditolak oleh MPRS hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka.

Hari Minggu, 21 Juni 1970 Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta. Presiden Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur berdekatan dengan makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.

Ir Soekarno adalah seorang sosok pahlawan yang sejati. Dia tidak hanya diakui berjasa bagi bangsanya sendiri tapi juga memberikan pengabdiannya untuk kedamaian di dunia. Semua sepakat bahwa Ir Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Ir Soekarno adalah bapak bangsa yang tidak akan tergantikan.

Riset dan Analisa: Fathimatuz Zahroh

PENDIDIKAN
  • Pendidikan sekolah dasar di Eerste Inlandse School, Mojokerto
  • Pendidikan sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto (1911)
  • Hoogere Burger School  (HBS) Mojokerto (1911-1915)
  • Technische Hoge School, Bandung (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) (1920)
PENGHARGAAN
  • Gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam dan luar negeri antara lain dari Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, Institut Agama Islam Negeri Jakarta, Columbia University (Amerika Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University (Mesir).
  • Penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang semuanya dilapisi emas dari Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, atas jasa Soekarno dalam mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan dan membebaskan diri dari politik apartheid. Penyerahan penghargaan dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di Pretoria (April 2005).

SUMBER

Kisah Kartini yang Tak Ingin Hidup Lebih dari 25 Tahun

Kontributor Sains, Monika Novena
Kompas.com – 21/04/2017, 22:07 WIB
Kartini.(-)

KOMPAS.com – Kematian Kartini yang mendadak pada tanggal 17 september 1904, empat hari setelah melahirkan putera laki-lakinya mengejutkan banyak pihak. Sabahat dan kerabat tidak menyangka Kartini pergi begitu cepat.

Suaminya, RM Djojo Adiningrat tak kuasa menahan sedih dan sangat terpukul, perasaannya ini dengan nyata ia ungkapkan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, sahabat sekaligus wanita yang dianggap ibu oleh Kartini.

“Dengan halus dan tenang ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan saya, lima menit sebelum hilangnya (meninggal) pikirannya masih utuh, dan sampai saat terakhir ia masih sadar. Dalam segala gagasan dan usahanya, ia adalah lambang cinta dan pandangannya dalam hidup demikian luasnya. Jenasahnya saya tanam keesokan harinya di halaman pasanggrahan kami di Bulu, 13 pal dari kota,” tulis Djojo Adiningrat seperti di kutip dari buku ” Kartini: Sebuah Biografi” yang ditulis oleh Sitisoemandari Soerto.

Kabar mengenai kematian Kartini kemudian tersiar dalam Koran De Java bode hari Senin, 19 September 1904, dalam sebuah ‘in memoriam’ yang menceritakan riwayat hidup Kartini.

“Suatu kehilangan yang susah digantikan oleh mereka yang akan berusaha mengikuti jejaknya,” tulis Koran itu.

Kartini sendiri semasa hidupnya seperti sudah punya firasat kalau hidupnya tak akan lama. Ia sempat ‘berpamitan’ kepada orang-orang terdekatnya.

Saat berkirim surat kepada kepada Nyonya Abendanon tertanggal 10 Agustus, Kartini mengatakan jika surat yang ia tulis merupakan surat terakhir.

Tanda-tanda itu juga ia sampaikan sendiri kepada adiknya. Roekmini  menceritakan bagaimana kakaknya yakin jika ia akan meninggal di usia muda dalam suratnya kepada Nellie van Kol pada tanggal 21 Juni 1905.

“Tak kala masih gadis dan masih berkumpul, Ayunda sering bilang bahwa ia tak mau hidup lebih lama dari 25 tahun,”

Waktu mengandung Kartini juga berulang kali menulis kepada Roekmini, memintanya untuk merawat anaknya jika ia tidak dapat merawat lagi.

Juga ketika sang suami, Bupati Djojo Adiningrat berbicara mengenai kemungkinan jika ia akan meninggal duluan karena usianya yang jauh lebih tua, Kartini akan memotong pembicaraan.

“Tidak Kanda, dari kita berdua aku nanti yang meninggal lebih dulu. Lihat saja nanti!.” Tulis Roekmini dalam suratnya menceritakan perihal firasat Kartini.

Keponakan kesayangan Kartini, Soetijoso Tjondronegoro juga mendapat ‘tanda’ itu. Saat berumur 5 tahun dan sedang bersama orangtuanya tiba-tiba seekor cicak jatuh dikepalanya.

Dalam kepercayaan Jawa, cicak yang jatuh diatas kepala merupakan pertanda jika akan ada kerabat yang meninggal. Paginya, tersiar kabar duka yang datang dari Rembang. Kartini meninggal.

Soetijoso yang kemudian masih sempat ditemui oleh Sitisoemandari Soeroto penulis buku Kartini Sebuah Biografi mengatakan tak ingin menyinggung lebih banyak mengenai meninggalnya Kartini yang begitu mendadak.

“Kami pihak keluarga menerima keadaan sebagaimana faktanya dan sudah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa,” katanya.

SUMBER

Dukungan Keluarga Yang Utama

Oleh: Ririn Faridah SPd*

Selasa, 06 Jun 2017 12:26 | editor : Suryo Eko Prasetyo

Ririn Faridah SPd (Jawa Pos Photo)

KELUARGA adalah pendidik yang pertama dan utama. Kalimat tersebut dicetuskan Ki Hajar Dewantara sejak 1935. Sebab, keluarga merupakan bagian dari Tri Sentra Pendidikan.

Orang tua hendaknya menciptakan kebiasaan positif dalam rumah. Dengan begitu, anak terbiasa bersinggungan dengan hal positif. Misalnya, membiasakan anak untuk mencium tangan orang tua, memberi salam, meminta maaf, dan membantu orang lain.

Namun, adakalanya orang tua lengah dalam memperhatikan hal-hal sederhana tersebut. Yang terpetakan pada pikiran orang tua hanya menyekolahkan anak. Berlomba-lomba mencari sekolah favorit dengan harapan pendidikan anaknya menjadi baik. Namun, kita harus ingat bahwa kendati guru di sekolah sudah mendidik anak-anak kita dengan baik, jika anak-anak kembali pada kebiasaan tidak baik di rumah, pendidikan pada anak tidak akan berhasil. Harus ada sinergi antara pendidikan di sekolah, lingkungan, dan keluarga.

Selain itu, orang tua perlu memberikan pemahaman kepada anak mengenai maksud tindakan tersebut perlu dilakukan. Ajak anak untuk merenung, apa makna yang terkandung di balik tindakan tersebut. Ubahlah mindset bahwa sekolah adalah tempat pendidikan anak yang utama. Pendidikan anak juga terbentuk dari lingkungan dan keluarga. Namun, peran keluarga yang dominan memengaruhi keberhasilan pendidikan seorang anak.

Jadikan keluarga sebagai miniatur sekolah. Yakni, semua orang dewasa yang berada di dalamnya adalah guru bagi anak. Melalui pendidikan keluarga, seorang anak belajar banyak hal, berinteraksi dengan orang sekitar, menyatakan keinginan dan pendapat, berbicara, berperilaku, serta bersikap.

Berperan sebagai sahabat anak merupakan salah satu solusi terbaik bagi orang tua dalam mendidik dan menanamkan karakter. Gunakan hati dan kendalikan emosi ketika mendengarkan cerita yang dialami anak. Ajak anak selalu berpikir dan bertindak positif. Jangan membawa permasalahan di kantor ke rumah. Sebab, hal itu juga bisa sangat berpengaruh pada metakognisi anak.

*Guru Matematika dan Staf Kurikulum SMAN 2 Sidoarjo

SUMBER

Waduh, Residivis Korupsi

Selasa, 06 Jun 2017 16:27 | editor : Miftakhul F.S

Ilustrasi

Ilustrasi (Wahyu Kokang/Jawa Pos)

MUAL rasanya mendengar penangkapan koruptor. Kok tidak kapok-kapok, padahal sudah banyak ”temannya” yang tercokok. Apalagi, kali ini yang tercokok pernah dipenjara karena korupsi. Waduh, residivis. Yang jenis ini tak banyak. Sebab, biasanya sekali tertangkap, sulit kembali ke panggung kehidupan yang penuh fasilitas yang bisa dikorup.

Operasi tangkap tangan (OTT) menyangkut anggota DPRD Jatim ini merupakan tamparan kesekian bagi parpol. Entah harus ditampar berapa kali lagi sampai mereka benar-benar kapok. Sebelum ini, di Jatim KPK menangkap tangan Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron yang juga mantan bupati dua periode. Pengembangannya menguak gurita korupsi ratusan miliar di kabupaten miskin itu.

Fuad Amin divonis 13 tahun penjara dan duitnya Rp 250 miliar dirampas. Di usianya yang 68 tahun, mungkin sulit baginya kembali ke kursi pemerintahan.

Dari hasil OTT Senin (5/6), KPK mengamankan tiga staf komisi B DPRD Jatim. Tiga staf itu berinisial RA, MH, dan S. Ketiganya adalah staf Ketua Komisi B DPRD Jatim M. Basuki, mantan kader PDIP dan mantan ketua DPRD Kota Surabaya yang pernah dipenjara 1,5 tahun plus denda Rp 20 juta dan pengembalian Rp 200 juta pada 2002 karena terbukti korupsi APBD Rp 2,7 miliar.

Rupanya, kasus ”bancakan” yang digulung di DPRD Jatim sebelumnya tak menimbulkan efek jera. Fathorrasjid, ketua periode 2004–2009, divonis 4 tahun penjara, denda Rp 100 juta, dan mengganti Rp 5,86 miliar. Ini perkara korupsi P2SEM (program penanganan sosial ekonomi masyarakat). Selain Fathorrasjid, puluhan orang lain yang terlibat bancakan tersebut diusut kejaksaan, saat kejaksaan masih gagah dan relatif tepercaya.

Kasus tangkap tangan kemarin akan memantik bagaimana menimbulkan efek jera. Vonis 1,5 tahun dan membayar Rp 220 juta ternyata tak membuat kapok. Sebab, mantan napi korupsi masih bisa kembali ke panggung politik. Karena itu, vonis-vonis pengebirian hak politik perlu diintensifkan.

Pemiskinan juga wajib lebih serius dilaksanakan. Kalau tak bisa membayar duit senilai vonis, habisi harta bendanya. Biar mereka kembali merasakan ”nikmatnya” bekerja dengan tangan dan fisik, seperti dilakoni rakyat banyak yang duitnya mereka korupsi. (*)

SUMBER

Keluar dari Jebakan Rutinitas Ramadan

Oleh: Nadirsyah Hosen*

Sabtu, 03 Jun 2017 16:11 | editor : Miftakhul F.S

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen (Jawa Pos Photo)

RITUAL tahunan itu telah datang. Bulan suci telah tiba. Semua bergembira menyambutnya, dan tanpa sadar pola hidup kita telah menyesuaikan diri dengan ritme bulan puasa. Tengoklah pola konsumsi kita, hiburan di televisi, bahkan hiasan dan aksesori di pusat perbelanjaan pun serentak mengulang rutinitas tahunan ini. Adakah yang berbeda dari puasa tahun ini dibandingkan dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya?

Kahlil Gibran pernah menulis: ”Cinta yang tak diperbarui setiap hari, ia akan menjelma menjadi perbudakan.” Artinya, spirit cinta bisa lenyap ketika hanya disuguhi menu yang sama, gerak langkah yang seragam, dan aktivitas yang itu-itu saja bagai rutinitas belaka tanpa ada ruang untuk memperbarui spirit cinta. Kita rasakan sendiri bagaimana hirup pikuk Ramadan begitu menggeliat di minggu pertama, tapi perlahan meredup ketika kita telah terbiasa kembali menahan lapar dan dahaga di minggu berikutnya. Contoh kecil: saf di masjid pun semakin berkurang barisnya dibandingkan minggu pertama berpuasa.

Para ustad yang memberikan kultum juga seolah hanya memutar ulang pita kaset isi ceramah tahun-tahun sebelumnya. Sindrom ”kutiba” memeluk para ustad di bulan puasa. Ayat yang dibaca selalu ayat yang sama, hadis yang disampaikan juga begitu. Tentu tidak ada yang salah dengan kutipan ayat dan hadis tersebut, tapi jika makna yang disampaikan selalu sama setiap Ramadan, jamaah pun sudah sama-sama tahu apa yang disampaikan para ustad, karena nyaris setiap Ramadan isi kultum telah menjadi rutinitas belaka.

Di sinilah jebakan rutinitas terjadi. Puasa yang telah kehilangan spirit cinta Ilahi akan menjelma menjadi kebiasaan seperti halnya menemui kemacetan di jalan raya setiap hari. Awalnya terasa berat, tapi lambat laun menjadi hal biasa. Bahkan, kalau ada yang mengomel karena macet, kita jadi kebingungan: ”bukankah macet itu hal biasa!”. Ibadah Ramadan yang kehilangan spirit cinta Ilahi itu seperti jebakan jalanan macet: mau tidak mau, Anda akan tetap menjalaninya karena itu sudah menjadi hal biasa.

Lantas, bagaimana caranya agar spirit cinta kita selalu diperbarui setiap hari di bulan Ramadan? Bagaimana caranya hati kita bergetar setiap hari menyongsong fajar saat memulai puasa kita?

Ada yang menjawabnya dengan mengurung diri berkhalwat selama bulan Ramadan. Banyak kisah para sufi dalam literatur keislaman yang bercerita bila Ramadan tiba, kenikmatan dunia seolah berhenti dan para sufi mengisinya hanya dengan ibadah semata. Buat kebanyakan orang, langkah itu tidak praktis karena kita memiliki keluarga dan juga tanggung jawab mencari nafkah. Kita bukanlah para sufi yang memang hubungannya dengan Allah sudah sedemikian khusus. Hanya orang tertentu yang sanggup menjalani cara itu.

Ada pula yang membuat formula beribadah dengan mengkhatamkan Alquran, salat malam, dan berbagai macam amalan lainnya. Alhasil, mereka akan loyo dan kecapekan saat berangkat ke kantor atau kampus akibat begadang selama bulan Ramadan. Produktivitas kerja menjadi menurun, bos di kantor marah, atau dosen di kampus menjadi murka melihat mahasiswa tertidur di kelas.

Ada yang berusaha menemukan spirit cinta Ilahi dengan berbagi kepada sesama di bulan puasa. Ada yang setiap sore memasak nasi, tempe, tahu dan sayur, lantas dibungkus dan kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada mereka yang papa. Apakah kaum papa itu berpuasa? Tidak penting. Yang penting mereka punya makanan untuk berbuka. Siapa tahu mereka jadi tergerak untuk berpuasa karena kini yakin punya makanan untuk berbuka.

Ada pula yang tak sempat khataman Quran, tak sempat bangun malam, tak ada pula rezeki lebih untuk berbagi, yang mereka lakukan hanyalah tetap berusaha menjalani puasa semampu mereka. Kita temui mereka pada sudut kota yang terik, berdiri di jalanan yang berdebu, mengais-ngais sisa makanan atau sekadar memetik gitar atau menjajakan dagangannya.

Bisakah kita menemukan spirit cinta Ilahi pada pedagang asongan, tukang parkir, tukang becak, tukang sampah, maupun para pengamen jalanan? Ibn Athaillah mengingatkan kita: rubbama wajadta min al-mazidi fi al-faqat ma la tajiduhu fi al-shaum wa al-shalat. Boleh jadi seseorang akan memperoleh pengalaman batin dalam penderitaan, apa yang tak bisa diperoleh dalam puasa dan shalat. Boleh jadi Tuhan justru hadir pada mereka yang menderita dan telah ”berpuasa” sepanjang tahun, dibanding kita yang hanya bepuasa di bulan Ramadan.

Ada yang justru merajut kembali cinta Ilahi dengan memilih bekerja sebagaimana biasanya. Rutinitas Ramadan bersatu padu dengan rutinitasnya setiap hari. Semuanya berada dalam satu tarikan napas. Sementara pihak sedang iktikaf di masjid, dia malah berjam-jam tengah mengoperasi pasiennya dalam status hidup dan mati. Sementara orang tengah bertadarus, ada yang sibuk memahami ayat kauniyah dalam ruang laboratorium dengan berbagai eksperimennya. Ayat-ayat-Nya hadir dalam tumpukan paper dan berbagai bahan kimia di sekitarnya.

Untuk orang seperti mereka itu, puasa Ramadan bukan menjadi rutinitas yang membuat cintanya seolah menjadi perbudakan, tetapi telah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupannya. Tak lagi mereka pisahkan mana dunia dan mana akhirat; seolah beribadah hanya melulu urusan akhirat, dan bekerja seolah hanya berorientasi pada dunia. Pandangan mereka tentang dunia dan akhirat berbeda dengan kebanyakan orang.

Sesuai dawuh Kiai Ahmad Asrori (Allah yarham), dunia itu adalah segala sesuatu yang memalingkan kita dari Allah (meskipun sedang beribadah). Sedangkan akhirat itu adalah segala sesuatu yang membuat kita menuju Allah (meskipun sedang bekerja mencari nafkah). Maka, merajut kembali spirit cinta Ilahi selama bulan Ramadan dimulai dengan menata ulang cara pandang kita akan dunia dan akhirat. Jangan-jangan kita terjebak pada rutinitas Ramadan itu karena kita keliru memaknai mana yang duniawi dan mana perbuatan yang sifatnya ukhrawi.

Jika khataman Quran dan salat malam serta kultum yang kita sampaikan itu justru tidak membuat kita lebih dekat kepada-Nya, kita masih berada pada level ”duniawi”. Sebaliknya, jikalau pekerjaan dan aktivitas kita di kantor, kampus atau jalan raya, membuat kita semakin merasakan kehadiran-Nya, spirit cinta Ilahi sudah membawa kita pada level ”akhirat”.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang baik saat di masjid maupun berada di kantor, apa pun aktivitasnya, baik zikir maupun pikir, selalu menjadi wasilah untuk mendekat kepada Allah di bulan Ramadan ini? Mereka itulah yang berhasil keluar dari jebakan rutinitas Ramadan. Mereka itulah yang selalu memperbarui spirit cinta-Nya setiap hari. Mereka itulah yang memenuhi tujuan berpuasa, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Dan, bi idznillah, mereka itulah yang layak mendapat kemuliaan malam seribu bulan. Semoga! (*)

 

*Rais syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan dosen senior Monash Law School

SUMBER

Franco Morbidelli Selalu Bersikap Santai

Senin, 5 Juni 2017 15:06 WIB

Franco Morbidelli Selalu Bersikap Santai
motorsport
Franco Morbidelli

TRIBUNNEWS.COM – Sudah menang empat kali menjadi juara pertama dari lima seri balapan Moto2, pebalap EG 0.0 Marc VDS, Franco Morbidelli, selalu menyebut bahwa dirinya berusaha untuk tetap santai menanggapi banyak hal, baik itu kekalahan maupun kemenangan.

Seperti dilansir Speedweek dan Crash, Morbidelli merasa tidak harus bertingkah atau menanggapi segala seauatu terlalu berlebihan, karena semua yang dialami adalah hal wajar dan sesuai dengan apa yang telah diupayakannya.

“Kenapa? apakah saya terlihat terlalu santai ya? mungkin memang saya seperti itu selama ini. Apalagi yang harus saya lakukan? Saya hanya akan berusaha semaksimal mungkin di setiap balapan. Berada di posisi start terdepan dan berusaha untuk finis nomor satu, itu saja. Saya rasa pebalap yang lain juga demikian. Coba tanyakan ke Valentino Rossi, Maverick Vinales, atau Marc Marquez, pasti tidak beda,” kata Morbidelli, sambil tertawa.

Baca: Cristiano Ronaldo Merasa Muda Lagi

Ketika berhasil meraih kemenangan, selebrasi Morbidelli tidak pernah berlebihan.

Saat gagal finis pun, dia tidak menunjukkan penyesalan berlebihan.

Pembawaannya selalu tenang di segala kondisi, seperti saat dirinya gagal finis pada seri keempat yang berlangsung di Sirkuit Jerez, Spanyol, Dua pekan lalu.

Dia terjatuh pada lap ke-9 saat bersaing untuk meraih kemenangan.

Apa yang terjadi dengan Morbindelli memang akhirnya menjadikan pertanyaan banyak orang, termasuk para awak media, yang beberapa kali mewawancarainya.

Mobindelli dinilai minim ekspresi dan terlihat biasa saja, meski sudah memang dan kini memimpin klasemen sementara di Moto2.

“Apa yang harus saya perbuat? Saya memang selalu santai seperti ini. Tidak ada hal berlebihan yang harus saya lakukan, seperti terlalu bersedih atau terlalu gembira. jadi cukup biasa saja, namun tetap berusaha,” kata Morbidelli, dengan tatapan tenang ke arah awak media.

SUMBER