Berkenalan dengan Jurnalisme Sastrawi Bersama Hilmi

May 19, 2017 Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org—Di tengah hiruk-pikuk peserta tes SBMPTN hari kedua, Selasa (16/5), peserta Talkshow Jurnalisme Sastrawi dalam acara yang diagendakan Lembaga Pers Kampus Gema UNESA tak kalah riuh. Bertempat di Wisma Guru, Jl. A. Yani 6-8 Surabaya, Talkshow yang bertema “Jurnalisme Sastrawi di Era Digital” ini diikuti oleh 70 peserta.

Dalam Talkshow tersebut M. Hilmi Faiq, Narasumber utama Alumnus Universitas Muhamadiyah Malang 1999, menjelaskan jika Jurnalisme Sastrawi merupakan jenis tulisan yang tidak main-main. Selain membutuhkan waktu hingga tahunan, wawancaranya pun bisa dilakukan dengan puluhan hingga ratusan narasumber, “Karena dalam penulisannya menceritakan secara detail tentang kejadian, menjelaskan adegan demi adegan (scene by scene construction),” tutur Hilmi.

Selain itu, menurutnya, Jurnalisme Sastrawi ini masih tergolong baru muncul dalam dunia jurnalistik dan sangat berbeda dari in-depth reporting.  Laporannya panjang dan utuh, tidak dipenggal-penggal. Dimunculkan secara detail oleh penulis mulai dari karakter yang dibumbui dengan drama hingga konflik yang terjadi. “Jurnalisme Sastrawi bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa,” tutur laki-laki berkacamata yang sudah tahun ke-12 menjadi wartawan Kompas.

Tulisan bergenre Jurnalisme Sastrawi ini sangat jarang ditemukan dalam media harian Indonesia. Hilmi mengatakan jika teknik penggalian data yang mendalam dan penyampaian yang menggunakan diksi pilihan menjadi alasannya. “Butuh waktu yang lama untuk membuat karya beraliran Jurnalisme Sastrawi, selain itu butuh kurang lebih satu setengah halaman koran untuk memuatnya,” imbuhnya ketika ditemui Solidaritas selepas Talkshow.

Hilmi juga memberikan beberapa strategi membuat tulisan yang menarik, salah satunya menciptakan tulisan yang kira-kira 30 detik pertama membuat pembaca semakin ingin tahu tema yang dibahas. “Harus bisa membuat pembaca Kepo,” ungkapnya. Selain itu, Hilmi menyarankan untuk menggunakan bahasa aktif dalam penulisan berita.

Agenda Talkshow Jurnalisme Sastrawi berakhir pukul 12 siang. Menurut Ketua Panitia, Asri Hikmatulailli, dengan Jurnalisme Sastrawi akan menjadi sebuah solusi untuk khalayak supaya lebih tertarik membaca. Dirinya juga menjelaskan follow-up agenda ini adalah Diklat Dasar Jurnalistik yang lebih difokuskan ke internal LPM GEMA UNESA. (Iqb)

Sumber

Pemkot Beri Bekal dan Semangat Baru CSR 2017

May 19, 2017 Berita Kampus

Solidaritas-UINSA.org—Jumat (19/05) Ruang Sidang Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) diramaikan oleh beberapa para mahasiswa. Mereka merupakan anggota dari program Campus Social Responsibility (CSR) UINSA binaan Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya. Acara kali ini adalah “Workshop Pengembangan dan Evaluasi” yang berkerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menangani anak rentan atau putus sekolah. Pada acara ini, A’yun dan Teguh, turut hadir selaku Koordinator Program dan pembina CSR UINSA.

Acara ini didesain untuk memberikan bekal dan semangat baru bagi kakak damping 2017. Tak hanya itu, beberapa anggota CSR tahun sebelumnya juga menyempatkan hadir untuk membagikan pengalamannya. Acara dimulai sekita pukul 08.47 WIB. diawali dengan sesi motivasi diri oleh salah satu dosen, Muhammad Thohir, M. Pd. Dalam penyampaiannya dijelaskan bahwa alangkah lebih baik jika motivasi diawali dari diri sendiri.

Kemudian Warek III, Prof. Ali Mufrodi dalam sambutannya menyampaikan bahwa CSR merupakan salah satu dari program unggulan yang dimiliki oleh UINSA, selain dari program unggulan KKN literasi dan juga program KKN di luar negeri yang menggunakan menggunakan teori  Aset Based Community Development (ABCD).

Prof Ali menjelaskan bahwa dalam kesempatannya, UINSA pada acara seminar yang digelar oleh Asia Pasific University Community Engagement Network (APUCEN) sekitar sebulan yang lalu, pihak perwakilan UINSA juga memperkenalkan kegiatan CSR ini dalam kancah Internasional.

Ketua Panitia Acara, Khoiriyah, mengatakan bahwa dirinya sangat mengaharapkan manfaat yang didapat dalam acara ini. Selain untuk bekal pendampingan adik asuh nanti. Materi yang disampaikan tadi sangat bisa digunakan dimana saja. “Harapannya nanti teman – teman CSR bisa melakukan pendampingan dengan lancar, bisa menerapkan apa yang sudah didapat hari ini,” tutur Khoiriyah ketika ditanya mengenai harapan diadakannya acara ini. (arh)

SUMBER

Ngabuburit Preneur Bersama Dahlan Iskan 1.600 Tiket Terjual

Solidaritas-uinsa.org—Himaprodi Akutansi FEBI berkolaborasi dengan Himaprodi Manajemen Dakwah FDK UINSA mengadakan Ngabuburit Preneur Seminar Nasional Entrepreneurship dan Mega Launching 101 Produk Berkah Mahasiswa UINSA (30/5). Seminar dan pameran produk yang merupakan tugas pengganti UAS ini menghadirkan Dahlan Iskan dan Dekan S2 Universitas Ciputra David Sukardi Kodrat sebagai pembicara, bertempat di Auditorium UINSA.

Sebelum seminar dimulai, Dahlan Iskan dengan kemeja merah mudanya berkeliling di pameran mahasiswa dan membeli beberapa produk mereka. Dahlan Iskan mengapresiasi beberapa mahasiswa yang menampilkan produknya dengan mengundangnya ke atas panggung dan memberikan konsultasi terhadap usaha mereka. Salah satunya Rini Pujiastutik dengan produk Teh Godong. Dia mengaku sangat senang dapat berkonsultasi langsung dengan Dahlan Iskan. “Perasaannya seneng banget, enggak nyangka banget. Ketemu beliau aja udah seneng banget terus apalagi ini kan salah satu proyek dari kita itu diakui sama beliau, dibanggakan sama beliau. Alhamdulillah sekarang udah lega udah seneng banget pokoknya,” ungkapnya saat ditemui di stannya.

Begitu pula dengan Muhammad Wildan yang berada di atas panggung karena produk sketsa wajahnya. Wildan yang menjadikan sketsa sebagai usaha sampingan ini mengaku ingin menjadi aktor film dan sedang mendalami dunia peran di Teater SUA (UKM Fakultas Dakwah, Red). Untuk mendukung impiannya, Dahlan Iskan mengundang Wildan pada pementasan teater yang diadakan di SMA Ciputra. “Kalo saya tahu dia dua minggu yang lalu, saya akan minta dia ikut sebagai bintangnya,” ucap Dahlan Iskan yang disambut dengan tepuk tangan para peserta seminar.

David Sukardi juga memberikan komentar kepada produk Tempe Cokelat. David mengapresiasi para pencetusnya karena melakukan uji pasar sampai 10 kali, sedangkan menurutnya banyak sekali orang yang ketika membuat produk lupa untuk melakukannya (uji pasar, Red). Dia juga memuji keterampilan usaha Manajemen Artis milik Nur Wahyu Hasanah dan Fatmawati yang mampu berjalan lancar dengan sistem bagi keuntungan. Ia berpesan kepada peserta untuk sering keluar dan melihat agar mendapatkan ide-ide baru.

Acara yang berlangsung sejak pukul 16.00 WIB ini membuat Gedung Auditorium UINSA dipenuhi peserta. Saat ditemui seusai acara, Yusril Izza selaku ketua panitia mengaku hanya melakukan persiapan selama 3 minggu yang berawal dari tantangan dosen untuk memulai usaha. Meskipun persiapan tergolong sangat mendadak, 1.600 tiket seminar ludes dibeli peserta hanya dalam waktu 2 minggu saja. “Kalo direncanakan sih sekitar 1.600 peserta tapi terealisasi cuma sekitar 1.000-an yang hadir, karena ada ujian ma’had,” jawab Yusril saat ditanya jumlah peserta. (auls)

SUMBER