Waduh, Residivis Korupsi

Selasa, 06 Jun 2017 16:27 | editor : Miftakhul F.S

Ilustrasi

Ilustrasi (Wahyu Kokang/Jawa Pos)

MUAL rasanya mendengar penangkapan koruptor. Kok tidak kapok-kapok, padahal sudah banyak ”temannya” yang tercokok. Apalagi, kali ini yang tercokok pernah dipenjara karena korupsi. Waduh, residivis. Yang jenis ini tak banyak. Sebab, biasanya sekali tertangkap, sulit kembali ke panggung kehidupan yang penuh fasilitas yang bisa dikorup.

Operasi tangkap tangan (OTT) menyangkut anggota DPRD Jatim ini merupakan tamparan kesekian bagi parpol. Entah harus ditampar berapa kali lagi sampai mereka benar-benar kapok. Sebelum ini, di Jatim KPK menangkap tangan Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron yang juga mantan bupati dua periode. Pengembangannya menguak gurita korupsi ratusan miliar di kabupaten miskin itu.

Fuad Amin divonis 13 tahun penjara dan duitnya Rp 250 miliar dirampas. Di usianya yang 68 tahun, mungkin sulit baginya kembali ke kursi pemerintahan.

Dari hasil OTT Senin (5/6), KPK mengamankan tiga staf komisi B DPRD Jatim. Tiga staf itu berinisial RA, MH, dan S. Ketiganya adalah staf Ketua Komisi B DPRD Jatim M. Basuki, mantan kader PDIP dan mantan ketua DPRD Kota Surabaya yang pernah dipenjara 1,5 tahun plus denda Rp 20 juta dan pengembalian Rp 200 juta pada 2002 karena terbukti korupsi APBD Rp 2,7 miliar.

Rupanya, kasus ”bancakan” yang digulung di DPRD Jatim sebelumnya tak menimbulkan efek jera. Fathorrasjid, ketua periode 2004–2009, divonis 4 tahun penjara, denda Rp 100 juta, dan mengganti Rp 5,86 miliar. Ini perkara korupsi P2SEM (program penanganan sosial ekonomi masyarakat). Selain Fathorrasjid, puluhan orang lain yang terlibat bancakan tersebut diusut kejaksaan, saat kejaksaan masih gagah dan relatif tepercaya.

Kasus tangkap tangan kemarin akan memantik bagaimana menimbulkan efek jera. Vonis 1,5 tahun dan membayar Rp 220 juta ternyata tak membuat kapok. Sebab, mantan napi korupsi masih bisa kembali ke panggung politik. Karena itu, vonis-vonis pengebirian hak politik perlu diintensifkan.

Pemiskinan juga wajib lebih serius dilaksanakan. Kalau tak bisa membayar duit senilai vonis, habisi harta bendanya. Biar mereka kembali merasakan ”nikmatnya” bekerja dengan tangan dan fisik, seperti dilakoni rakyat banyak yang duitnya mereka korupsi. (*)

SUMBER

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s